Semakin di larang, semakin banyak orang yang penasaran. Tidak peduli siapa yang melarang, bahkan sebagian ajaran agamapun melarang yang namanya rokok. Informasi bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, tidak membuat orang menjadi berhenti untuk merokok, bahkan menjadi ketergantungan tiap harinya. Tetapi itulah realita yang ada di Indonesia.

Tingginya permintaan atas rokok adalah pasar besar bagi industri rokok di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan pengawasan peredaran rokok dengan cara menetapkan tarif cukai yaitu untuk mengendalikan angka peredaran cukai dan juga sebagai sumber pendapatan negara. Bentuk pengawasan dan peredaran rokok dari pemerintah adalah dengan cara pelekatan pita cukai pada bungkus rokoknya.

Adanya cukai rokok ini membuat beberapa pengusaha yang tidak ingin terbebani, mengakali dengan berbagai cara agar tidak perlu membayar cukai. Mulai dari menjual rokok tanpa ijin, menjual rokok tanpa cukai sampai dengan pemalsuan pita cukai. Dan yang paling menyamarkan peredaran rokok di Indonesia adalah pemalsuan pita cukai karena masyarakat luas menganggapnya sudah memenuhi dan lolos dari pengawasan pemerintah.

Oleh karena itu sebagai salah satu instansi yang melakukan pengawasan terhadap cukai rokok di wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, KPPBC Tipe Pratama Purwokerto menginginkan agar masyarakat juga mengetahui mana pita cukai asli dan mana pita cukai palsu. Agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengawasan rokok ini.

Pentingnya cukai untuk peredaran hasil tembakau

Masyarakat Indonesia terkenal konsumtif dalam segala hal, termasuk konsumtif terhadap rokok. Padahal kita semua tahu bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan. Di dalam kemasan rokok pun tertera peringatan dan bahaya rokok bagi kesehatan. Namun, masyarakat Indonesia tetap saja mengkonsumsinya, bahkan konsumennya cenderung bertambah setiap tahun.

Hal ini didukung oleh produsen rokok di Indonesia yang banyak dan produksinya semakin bertambah. Walaupun demikian, peredaran rokok tidak bisa dihentikan begitu saja. Karena penjualan rokok menjadi penyumbang pendapatan negara yang tidak sedikit. Selain itu, apabila produksi rokok dihentikan maka akan mengurangi lapangan pekerjaan sehingga jumlah pengangguran akan meningkat.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mempunyai kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut dengan mengenakan cukai pada rokok. Cukai itu sendiri adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik tertentu, yaitu konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkingan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

Pita Cukai adalah tanda bahwa hasil tembakau diatur peredarannya

Cukai dapat dilunasi dengan tiga cara, yaitu dengan cara pembayaran, pelekatan pita cukai, dan pembubuhan tanda Untuk Barang Kena Cukai berupa hasil tembakau, pelunasannya menggunakan pelekatan pita cukai. Pita cukai adalah tanda khusus yang dilekatkan pada kemasan hasil tembakau sebagai bukti bahwa hasil tembakau tersebut telah dilunasi cukainya.

Pita cukai mempunyai desain yang beragam. Setiap berganti tahun anggaran, desain pita cukai juga berganti. Hal ini bertujuan untuk menghindari pemalsuan dan mempermudah identifikasi pita cukai oleh Pejabat Bea dan Cukai. Jenis pita cukai pun bermacam-macam, disesuaikan dengan jenis dan golongan hasil tembakau. Dilekatkannya pita cukai pada barang kena cukai merupakan tanda bahwa barang kena cukai tersebut legal dan diatur peredarannya karena telah dilunasi cukainya.

Pentingnya mengetahui pita cukai asli dengan yang palsu

Dalam praktiknya, banyak produsen hasil tembakau yang memalsukan pita cukai untuk menghindari pelunasan cukai. Hal ini jelas menyalahi Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 tentang Cukai. Memalsukan pita cukai, membeli pita cukai palsu, dan mempergunakan pita cukai bekas merupakan tindak pidana.

Setiap orang yang melakukannya dapat dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun dan dikenakan denda paling sedikit 8 (delapan) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

Kecenderungan pengusaha hasil tembakau untuk memalsukan pita cukai

Pencetakan pita cukai dipercayakan kepada Perum Peruri yang bertujuan untuk menghindari pemalsuan. Pita cukai yang asli hanya disediakan oleh Kantor Pusat DJBC dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai. Namun masih banyak pengusaha hasil tembakau yang melakukan pelanggaran, seperti pemalsuan pita cukai, menggunakan pita cukai bekas pakai, dan menggunakan pita cukai yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

20150913_145539

Para Pengusaha cenderung memalsukan pita cukai. Mereka menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Walaupun tujuan tersebut sesuai prinsip ekonomi, namun cara yang mereka gunakan sangat menyalahi aturan. Hal tersebut dapat menyebabkan kerugian pada penerimaan negara melalui cukai.

Identifikasi pita cukai palsu untuk cetakan 2015

Berikut ini paparan mengenai pita cukai tahun 2015 yang dilekatkan pada bungkus rokok yang beredar di pasaran. Ciri-ciri pita cukai 2015 palsu yang ada pada foto di atas adalah sebagai berikut:

  1. Warna emas pada bagian hologram lebih cerah
  2. Hologram lebih terang dilihat dari sudut pandang yang sama
  3. Tidak ada simbol seperti huruf L

Partisipasi masyarakat melaporkan jika menjumpai / menemukan pita cukai palsu

Sangat diharapkan partisipasi dari masyarakat untuk memberitahukan dan melaporkan kepada pemerintah dalam hal ini Ditjen Bea dan Cukai jika menemukan pita cukai palsu. Untuk wilayah Kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga dapat menghubungi KPPBC Tipe Pratama Purwokerto di alamat berikut ini:

  1. Nomor telepon 0281-64378,
  2. Nomor fax 0281-636147,
  3. Email bcpurwokerto@customs.go.id,
  4. Alamat kantor:
    Jalan Ahmad Yani Nomor 30B, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, 53162